AMBENO (TOP) - Setiap awal September, warga di suku Bobometo (Kiubiselo, Tumin dan Nonkikan), Kecamatan Oe-Silo, Oe-Cusse Ambeno, kembali menyusuri jalan setapak menuju permakaman Tumin. Di sana, di bawah gundukan tanah yang kini mulai tertata sebagai monumen, bersemayam 82 warga yang dibantai dalam kurun dua hari paling kelam dalam sejarah enklave ini: 8 dan 9 September 1999.
Peristiwa itu dikenal warga setempat sebagai Masakre Bobo-Ufe atau Masakre Tumin bagian dari rangkaian kekerasan yang oleh banyak orang Timor-Leste disebut "September Hitam", masa ketika milisi pro-otonomi dan unsur militer Indonesia melancarkan aksi balas dendam setelah hasil jajak pendapat 30 Agustus 1999 menunjukkan mayoritas rakyat Timor-Leste, sekitar 78 persen dari suara yang terdaftar, memilih merdeka dari Indonesia.
Dua hari yang mengubah segalanya
Menurut kesaksian para penyintas yang dihimpun bertahun-tahun, kekerasan di Tumin bermula pada pagi 8 September 1999. Kelompok milisi memasuki wilayah itu dari beberapa arah sekaligus dari Oe-Silo melalui jalur Nainaban, dari Pássabe menuju Usitaqueno, dan dari Napan langsung ke pusat Tumin. Dalam serangan hari pertama itu, sejumlah tokoh masyarakat turut menjadi korban, termasuk seorang kepala desa.
Malam berikutnya, kekerasan berlanjut jauh lebih dahsyat. Sekitar 81 warga dikumpulkan dan digiring milisi ke sebuah lokasi bernama Teunlasi. Hanya sembilan orang yang berhasil selamat, puluhan lainnya dieksekusi. Total korban jiwa dalam dua hari itu mencapai 82 orang, sebagian sumber mencatat rincian jumlah harian yang sedikit berbeda, namun angka total korban secara konsisten disebut 82 jiwa oleh para penyintas dan keluarga korban.
Salah satu penyintas, Marcos Baquin, yang saat kejadian bersembunyi dan menyaksikan langsung eksekusi di Teunlasi, kerap membagikan kesaksiannya kepada generasi muda menjelang peringatan tragedi ini setiap tahun. Penyintas lain, Crisviano Bobo Elo "Manu Mean", turut menjadi salah satu narasumber yang paling sering mendokumentasikan nama-nama korban agar tidak hilang dari ingatan kolektif warga Oe-Cusse Ambeno.
Bagian dari pola kekerasan yang lebih luas
Masakre Bobo-Ufe bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia terjadi hampir bersamaan dengan gelombang kekerasan pasca-referendum di berbagai wilayah Timor-Leste lainnya termasuk yang dikenang di Maliana, Bobonaro, dan Suai. Di Oe-Cusse Ambeno sendiri, sekitar sebulan setelah Masakre Bobo-Ufe, milisi kembali melakukan pembantaian di Maquelab pada 20 Oktober 1999, menewaskan 13 warga lainnya.
Pola ini konsisten dengan temuan berbagai laporan mengenai kekerasan 1999, milisi pro-otonomi yang dibentuk dengan dukungan aparat keamanan Indonesia berupaya mengintimidasi penduduk agar menolak kemerdekaan, dan ketika upaya itu gagal di kotak suara, kekerasan balas dendam pun meletus di berbagai penjuru wilayah, menewaskan sedikitnya 1.500 orang secara nasional dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi, sebagian besar ke Timor Barat.
Yang membuat kasus Masakre Bobo-Ufe khas adalah posisi geografis Oe-Cusse Ambeno sebagai daerah kantong (enclave) yang terpisah dari wilayah utama Timor-Leste dan dikelilingi wilayah Indonesia. Keterasingan geografis itu turut memperlambat masuknya bantuan maupun perhatian dari luar pada masa krisis, sekaligus membuat proses pemulihan ingatan kolektif pascakonflik berjalan lebih pelan dibanding wilayah lain.
Ingatan yang dijaga, keadilan yang ditunggu
Setiap tahun, pelajar dan warga Oe-Cusse Ambeno menggelar longmars mengelilingi kota Oe-Cusse Ambeno menuju permakaman Tumin di Bobometo untuk memperingati tragedi ini. Tahun ini menandai peringatan ke-27 sejak peristiwa itu terjadi. Ratusan pelajar turut serta, sebagian di antaranya lahir jauh setelah 1999 dan hanya mengenal kisah pembantaian itu dari kesaksian lisan orang tua dan sesepuh kampung.
Di sisi lain, para penyintas dan keluarga korban kerap menyuarakan hal yang sama: kemerdekaan yang mereka bayar dengan darah belum sepenuhnya diiringi pembangunan yang layak bagi wilayah tempat pengorbanan itu terjadi. Permintaan mereka relatif sederhana, pembangunan monumen permakaman yang layak agar area pemakaman massal tidak lagi dimasuki hewan ternak secara bebas, serta pengakuan resmi yang lebih kuat atas peristiwa ini dalam narasi sejarah nasional.
Pemerintah RAEOA belakangan menyatakan komitmen untuk memodernisasi monumen di lokasi-lokasi pembantaian di Oe-Cusse Ambeno, termasuk di Tumin dan Maquelab, meski proses pembangunannya berjalan bertahap.
Bagi warga Bobometo, setiap September yang datang bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Timor-Leste, yang kini dirayakan sebagai buah perjuangan panjang, ditebus pula dengan nyawa mereka yang dulu dikepung, dieksekusi, lalu dikuburkan bersama di tanah leluhur mereka sendiri dan bahwa mengingat adalah cara paling minimal untuk memastikan pengorbanan itu tidak pernah dianggap sia-sia.

